whatnaomididnext.com – Pelestarian tenun ikat endek terus jadi perhatian serius berbagai daerah di Indonesia. Salah satu yang cukup menonjol datang dari Dekranasda Kota Denpasar. Lewat kunjungan kerja ke sentra perajin Tenun Ikat Bali Nusa, mereka berbagi pengalaman penting dengan Dekranasda Aceh Utara. Momen ini bukan sekadar kunjungan biasa, tapi jadi ajang tukar ilmu soal bagaimana menjaga warisan budaya tetap hidup dan relevan.
Read More : Warga Tertawa: Jadwal Salat Denpasar Kini Go Viral Di Grup Whatsapp Rt
Wakil Ketua Dekranasda Kota Denpasar, Ayu Kristi Arya Wibawa, menjelaskan kalau upaya pelestarian tenun ikat endek ini bukan cuma soal budaya, tapi juga menyangkut kualitas produk dan kemampuan para perajin. Jadi, fokusnya nggak hanya menjaga tradisi, tapi juga meningkatkan daya saing.
Komitmen Dekranasda dalam Mengembangkan Tenun Ikat Endek
Dekranasda Denpasar terus menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan tenun ikat endek berbasis kearifan lokal. Di bawah kepemimpinan Sagung Antari Jaya Negara, berbagai program dijalankan untuk menggali potensi kerajinan daerah.
Nggak cuma sekadar melestarikan, mereka juga aktif mengembangkan inovasi supaya kain endek tetap diminati di pasar modern. Kolaborasi antar daerah juga jadi langkah penting. Dengan adanya kerja sama seperti ini, peluang untuk memperluas pasar sekaligus menjaga eksistensi budaya jadi makin besar. Kunjungan dari Dekranasda Aceh Utara pun disambut positif. Selain mempererat hubungan, kegiatan ini juga membuka ruang diskusi yang bermanfaat bagi kedua pihak.
Alasan Tenun Ikat Endek Jadi Daya Tarik Utama
Ketua Dekranasda Aceh Utara, Musliana Ismail, mengungkapkan alasan memilih Denpasar sebagai tujuan belajar. Menurutnya, Denpasar berhasil menjaga keberadaan tenun ikat endek sekaligus mengangkat nilai ekonominya.
Hal ini memang menarik. Banyak daerah punya kain tradisional, tapi nggak semuanya bisa mengembangkan hingga punya nilai jual tinggi. Di Denpasar, pendekatan yang digunakan cukup seimbang antara tradisi dan inovasi. Nggak heran kalau mereka ingin belajar langsung, mulai dari strategi pelestarian sampai cara memberdayakan perajin.
Proses Produksi Tenun Ikat Endek yang Tetap Tradisional
Salah satu sesi menarik dalam kunjungan ini adalah berbagi pengalaman bersama Primasari Pande, pemilik Tenun Ikat Bali Nusa. Usahanya sudah berjalan sejak tahun 1982, jadi soal pengalaman jelas nggak main-main.
Ia menjelaskan kalau proses pembuatan tenun ikat endek masih menggunakan cara tradisional dengan alat tenun bukan mesin (ATBM). Mulai dari pengolahan benang hingga menjadi kain siap pakai, semua dilakukan dengan penuh ketelitian.
Bahan yang digunakan pun berkualitas, seperti katun dan sutra. Nggak heran hasil akhirnya punya nilai estetika tinggi. Selain itu, Primasari juga menekankan pentingnya perawatan kain. Kalau kamu punya kain endek, perawatannya harus benar supaya warna dan kualitasnya tetap awet.
Dari kunjungan ini, terlihat jelas kalau pelestarian tenun ikat endek butuh kerja sama, inovasi, dan komitmen yang kuat. Denpasar sudah membuktikan kalau warisan budaya bisa tetap hidup sekaligus punya nilai ekonomi tinggi. Nah, sekarang giliran daerah lain untuk ikut bergerak dan menjaga kekayaan budaya Indonesia.